Another excerpt from Restart

Since Restart, my newest book, is gonnabe published very soon (actually, I’ve waited six freakin months to get this book published. Finally–Pfiuh…), I decided to give you a peek of the book. Our heroine is still Syiana Alamsjah, and this time I would like to introduce you to our new gorgeous hero, Fedrian Arsjad. Hope you’re all interested. I’m in love with these two people, and I hope so do you.

Restart will come soon enough. For pre-order information and giveaway, I will let you know via every social media I have. Oh btw, I have interesting Restart merchandise to be given to you, giveaway winners. Can’t wait to show you all. Please, please, stay still :))

xoxo,
Nina

 

You can read the first chapter of Restart here. And this is another scene from the book. Hope you’ll like it. :))

—————-

Please God, tell me this isn’t real.

Ketika langkahku semakin mendekati pintu kaca, semakin aku tahu bahwa doaku barusan nggak didengar. Aku menemukan Fedrian, dengan postur slender-nya, sedang bersandar di tembok lobi sambil menghembuskan asap rokok. Wajahnya seperti yang kuingat terakhir kali, gelap dan seksi. Ia mengenakan outfit yang sederhana—celana jins biru gelap, T-shirt putih, dan sepatu kanvas—tapi karena sangat berbeda dengan outfit orang-orang di sekelilingnya yang mengenakan pakaian kerja resmi, ia terlihat begitu outstanding.

Ketika melihatku, ia langsung berjalan menuju tempat sampah dan mematikan rokoknya. Dan tanpa kuduga, ia tersenyum. Membuat wajahnya yang tadinya terasa gelap, terlihat hangat. “Hai, Syiana.”

Aku rasa seluruh manusia yang saat ini sedang berdiri di lobi selatan mengetahui bahwa cowok yang sedang berdiri bersama mereka adalah Fedrian Arsjad dari Dejavu dan Fedrian Arsjad yang berperan sebagai Rindra di film Sunset Holiday. Mereka terlihat tertarik ketika mendengar Fedrian menyapaku. Ada yang menoleh diam-diam, tapi ada juga yang memperhatikan dengan kepo terang-terangan.

“Hai.” Hanya itu saja yang keluar dari mulutku. Ini nih yang aku nggak ngerti, tiap kali ada Fedrian di dekatku, aku suka amnesia kata-kata. Sering banget nggak tahu apa yang harus aku katakan, padahal aku jarang banget speechless dalam berbagai macam kesempatan. Apalagi kalau menghadapi cowok yang menyebalkan dan super pede, aku bisa sinis dan sarkastis.

So, shall we?” Ia bertanya.

This is it. Ini adalah saatnya memberitahu Fedrian bahwa aku nggak bisa. Emangnya dia pikir dia itu siapa? Main ngajakin makan siang seenaknya.

“Selalu kayak gini, ya?” Aku tersenyum sinis.

Fedrian sedikit bergerak, wajahnya menampakkan tanda bahwa dia nggak mengerti.

Lagi-lagi aku nggak bisa menahan agar nada suaraku nggak terdengar sinis, “Lo nggak selalu mendapatkan apa yang lo inginkan, Mr. Celebrity. Pernah berpikir bahwa orang yang lo ajak makan siang dengan tiba-tiba ini sebenernya nggak bisa dan nggak mau untuk makan siang bersama lo?”

Fedrian mengangkat alis. Seolah-olah barusan mendengarku berbahasa planet Uranus. “Dan alasannya adalah?” Ia kembali bertanya. Alisnya masih terangkat mempertanyakan.

“Pernah dengar dengan yang namanya janji? ” Aku bertanya kepadanya.

Belum sempat Fedrian menjawab, tiba-tiba aku mendengar suara cempreng yang familiar. “Yanaaa… antrean nomer berapa kita?”

Aku dan Fedrian menoleh ke arah asal suara dan menemukan Edyta serta Ihsan berjalan beriringan. Aku melihat wajah Edyta berubah ekspresi menjadi kaget ketika melihat bahwa aku nggak sendiri berada di lobi selatan. Gaya pecicilannya langsung berhenti dan dia mengubah setelannya menjadi kalem. Namun, aku bisa melihat bahwa ia hampir drooling ketika melihat Fedrian.

“Eh, hai, Fedrian.” Ia melambai lemah kepada Fedrian dan berhenti di sampingku. Aku merasakan cubitan kecilnya di pinggang bagian belakang tubuhku. Ouch. Sakit.

“Halo, Edyta.” Fedrian memamerkan senyumannya lagi. Kali ini senyuman asimetrisnya yang terlihat membuat wajahnya terkesan sombong. Tapi, nada ramah di suaranya menghapus kesan sombong tersebut. “Apa kabar?” Ia kemudian menyodorkan tangan untuk bersalaman dengan Edyta.

Aku rasa Edyta takjub melihat bahwa Fedrian mengingat namanya. Soalnya itu yang aku rasakan. Takjub.

“Eh. Baik,” jawab Edyta dengan salah tingkah. Setelah keterkejutannya agak pulih, ia balas bertanya, “Ada apa kok tumben ke sini?”

“Mau ngajakin Syiana makan siang.”

Bagus. Jawaban yang to the point. Menyasar telak pada sasaran.

Wajah Edyta kembali terkejut. Kurasa ia nggak menyangka sama sekali. Jangankan dia, aku aja nggak nyangka. “Tapi gue kan udah janji sama elo dan Ihsan.” Aku langsung memberikan alasan. Memberikan kode kepada Edyta ‘tolong-selamatkan-gue-dari-situasi-ini-please’.

Kembali Fedrian mengangkat alisnya. Mengetahui dengan siapa aku membuat janji. Ia kemudian berkata, “Salah gue kayaknya, nggak buat janji dulu. Ternyata Syiana udah bikin janji duluan.”

Edyta melongo sesaat. Baru beberapa detik kemudian, setelah menyadari maksud perkataan Fedrian, ia dengan polosnya berkata, “Lah, janjiannya cuma sama gue. Kalau sama gue atau Ihsan aja sih tiap hari juga bisa.”

Arrrgh, bener, kan. Aku sudah menduga ia akan berkata seperti ini. Itu sebabnya aku berusaha agar Edyta nggak bertemu dengan Fedrian. Edyta menatapku dengan sungguh-sungguh, yang aku tahu bahwa anak ini sedang bersandiwara, “Lo sama Ian aja, Yan. Gue sama Ihsan aja, gampang.”

Ian? Sejak kapan Edyta sok akrab sampai manggil Fedrian sebagai ‘Ian’?

“Eh—” Aku baru mau membantah, tapi sudah keduluan Fedrian. “Oh. Serius nggak apa-apa?” tanyanya dengan nada merendah.

Edyta mengangguk, dengan semangat meyakinkan bahwa hal tersebut nggak apa-apa.

“Eh, atau kita barengan aja, yuk….” Aku kemudian mengusulkan. Apa pun agar aku nggak hanya berdua dengan Fedrian.

“Barengan?” Edyta memandangku seolah-olah nggak pernah mendengar kata tersebut. “Ya nggak, lah. Menurut lo? Udah lo pergi sama Ian aja, gue sama Ihsan juga sekalian mau ke Grand Lucky. Lama nanti.” Ia kemudian menyenggol Ihsan yang dari tadi hanya berdiri mematung melihat pembicaraan kami. “Iya nggak, San?”

Ihsan mengangguk-angguk tanpa suara. Tampaknya nggak menyadari kode yang sudah aku lemparkan dari tadi.

Kurasa, kalau mereka menjadi sekelompok agen federal, pasti penyamaran mereka akan langsung terbongkar di awal-awal karena nggak ada yang bisa baca kode.

“Ok, kalau gitu.” Senyum Fedrian kini lebih lebar. “Shall we, Syiana?”

Aku melirik gemas pada Edyta dan Ihsan. Isshh, kenapa sih mereka berdua nggak ada yang bisa diajak kerja sama?

“Daaahhh, Syiana.” Edyta melambaikan tangannya sambil nyengir polos. Aku tahu bahwa habis ini dia pasti akan bertubi-tubi mengirimkan pesan menanyakan apa aja yang aku lakukan selama makan siang dengan Fedrian.

Aku melihat bahwa Fedrian sudah berbalik badan dan mulai melangkah menuju lapangan parkir. Aku berbisik pelan kepada Edyta, “You’re gonna pay this, Dyt.”

“Ih, emangnya gue ngapain?” Lagi-lagi Edyta menampakkan senyuman lebarnya yang sama sekali nggak polos. Aku mencubit lengannya dengan gemas lalu berbalik pergi. Meninggalkan dia yang sedang menjerit kesakitan.

Fedrian sudah berjalan beberapa langkah di depanku sebelum menoleh dan menyadari bahwa aku nggak mengikutinya. Ia berbalik dan berdiri santai menungguku.

Aku masih berdiri di tempat dan menggelengkan kepala.

Fedrian tertawa kecil dan berjalan kembali ke arahku. Begitu hanya berjarak satu meter di depanku, ia menyunggingkan senyuman asimetrisnya dan bertanya dengan nada mengejek, “Untuk orang yang berani menghadapi strangers dan melemparkan segelas bir ke muka mereka, di negeri orang pula. Sekarang lo takut menghadapi gue,” ia mengangkat sebelah tangannya dengan ekspresi nggak percaya, “yang udah bukan stranger, karena kita pernah ketemu sebelumnya. Kalau lo berani konfrontasi stranger di negeri orang, kenapa sekarang lo kelihatan takut padahal hanya akan sekedar makan siang di tempat yang jaraknya nggak sampai satu kilometer dari kantor lo?” Ia menggelengkan kepala, seolah nggak percaya. “Kayaknya bukan seperti Syiana yang gue kenal….”

Aku memutar bola mataku. “Kayaknya kita nggak bicara dalam frekuensi yang sama, deh. Emangnya sejak kapan lo mengenal gue?”

“Belum kenal.” Ia menjawab dengan nada tenang dan percaya diri. “Tapi kapan gue bakalan mengenal lo kalau lo tetap berdiri di sana dan nggak bergerak sama sekali?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

%d bloggers like this: