Books, Ongoing Projects

Restart – 1st Chapter

Syiana's Story Illustration 2

When a heart breaks, no it don’t breakeven

~ Breakeven, The Script

Causeway Bay | Hong Kong

“Gue baik-baik aja, Dyt.Bisa nggak sih, lo berhenti memperlakukan gue kayak anak kecil?” Aku mengeraskan suara karena jalanan terdengar begitu ramai. Suara orang yang bersahutan bergabung dengan suara konstruksi bangunan di depanku, membuat suara-suara lain terdengar kabur. ”Gila lo ya, hal terakhir yang gue butuhkan saat ini adalah kakak gue terbang dari Amsterdam ke Hong Kong!”

Aku mempercepat langkah dan dengan lincah menghindari sepasang laki-laki dan perempuan yang berjalan ke arahku dengan kecepatan tinggi. Gila ya para manusia di Hong Kong, nggak bisa jalan lebih pelan apa, ya? Aku  nggak bisa bersaing dengan mereka. Padahal aku udah jalan secepat mungkin tanpa menggunakan high heels yang kusimpan rapi di dalam tote bag milikku. Mengantisipasi pedestrian traffic madness di jam-jam sibuk, untuk kebaikan diri sendiri, sebaiknya aku menggunakan flats.

“Iya, patah hati. Tapi lo nggak perlu khawatir gue melemparkan diri ke good-looking investment banker di sini hanya karena patah hati.” Aku melirik ke atas. Memastikan tanda bahwa tangga di depanku ini menuju MTR[1]. “Oh ya, sebagai informasi buat lo,Dyt, gue training sampai malam dan dua malam terakhir ini dihabiskan berdua dengan Aulia. Lo nggak perlu khawatir.”

Aku mengarah ke eskalator turun, berhenti sesaat untuk memastikan Octopus Card sudah tersimpan aman di saku coat sebelah kiri, lalu bersama sejuta orang lainnya menjejakkan kaki di eskalator turun. Aku bergeser ke kanan untuk memberikan kesempatan agar orang yang hendak mendahuluiku bisa berjalan di sisi eskalator sebelah kiri.

Napasku agak sedikit terengah. Staminaku habis. Aku bahkan nggak bisa berjalan 100 meter dengan kecepatan konstan menyamai para manusia Hong Kong. Aku membuat mental note, saat balik ke Jakarta nanti, aku bakalan sering-sering jogging. Yeah, so much for promises.

Nggak lah.” Aku tertawa. Belum ke sana. Malam ini mungkin. Lan Kwai Fong agak jauh soalnya dari hotel.” Aku membetulkan bag strap di bahu yang sedikit merosot. ”Walaupun satu-satunya alasan gue nggak ke sana adalah karena jauh, Dyt. Bukan karena nggak mau, hehehe….”

Aku masih mendengar Edyta mengoceh di telingaku. Pedas dan panas. Akhirnya, ketika aku melihat sesosok cowok tinggi yang memandangku dengan sambil mengerutkan kening di dekat eskalator menuju platform, aku memotongnya dengan, ”Dyt, cabs dulu,ya. Udah ada Aulia di sini, gue mau masuk MTR dulu.” Aku menghentikan segala celotehannya dengan satu kata, ”Bye,” lalu memencet keypad ponselku yang berwarna merah, menaruhnya di saku coat dan tersenyum lebar kepada cowok tersebut. ”Hey Au. Udah lama, ya, nunggunya?”

Aulia, teman sebelah kubikelku, menggeleng. Hari ini ia memakai setelan jas body fit abu-abu, celana panjang senada dan postman bag yang talinya diselempangkan di bahu. Seumur-umur aku nggak pernah lihat ia pakai outfit ini kalau di Jakarta. ”Nggak kok, baru aja.”

”Eh, nanti malam menurut lo enaknya ke mana?” Aku bertanya sambil mulai berjalan beriringan bersama Aulia ke arah eskalator lain.

Aulia mengangkat bahu. ”Terserah aja, sih. Cuma gue mau ketemuan sama temen gue dulu, sih. Ternyata dia lagi dinas juga ke sini.”

”Oh ya? Siapa?”

”Shazi, anak First Singapore Bank.” Aulia mendahuluiku menuruni eskalator. Setelah kakinya menjejak, ia melanjutkan, ”Ternyata lagi ada Asia Banking Award disini, Yan.”

Asia Banking Award adalah acara penghargaan yang diselenggarakan rutin setiap tahun oleh sebuah majalah dengan skala Asia. Biasanya yang datang para petinggi dari industri perbankan di Asia dan nasabah-nasabah besar yang dianggap penting oleh bank tersebut.

Aku menanggapinya dengan mengangkat alis. ”Oh ya? Eh, temen lo itu FSB mana? Jakarta atau Singapur atau Kuala Lumpur?”

”Jakarta. Nanti malam mau ketemuan di Central.” Aulia membalik badannya ke arah depan. ”Mau gabung?”

Mengingat bahwa aku nggak ada rencana apa pun dan malam ini adalah malam terakhir aku berada di Hong Kong, maka dengan ringan aku menjawab, ”Boleh aja, sih. Tapi balik hotel dulu, ya?”

”Hah? Kenapa nggak langsung aja, sih?” protes Aulia.

”Ya masa gue pake pakaian kantor gini. Nggak enak ah, gue kan ingin tampil cantik.” Aku mengedipkan mata ke arahnya sambil tersenyum lebar. “Mana tas gue berat pula, isinya materi training.”

Aulia membalik badannya kembali dan menatapku saksama. ”Kelihatan lebih cantik?” Ia mengernyit. “Tumben, nih. Sejak kapan lo di-brainwash sama iklan pemutih dan pelangsing?”

Aku nggak menjawab, hanya menampilkan senyuman yang bertambah lebar. Ia lalu berkomentar lagi. “Kalau materi sih, biar gue yang bawa gapapa. Langsung aja ya, Yan? Gue males banget nih harus balik ke hotel.”

Aku mencibir, tapi setelah beberapa saat aku mengalah. ”Iya, iya. Tapi lo beliin gue minum.”

Done, jawabnya cepat sambil nyengir lalu membalik badannya ke arah depan. Ia menggeleng-geleng dengan takjub. ”Lo mureh juga ya, Yan.”

Sial.

——–

 Banyak orang yang bilang bahwa jika kita menghadapi masalah, hadapi dan jangan lari. Karena kalau kita lari, masalah nggak akan pernah selesai. Memudar, tapi nggak akan pernah selesai. Tapi untuk kali ini aku nggak peduli. Aku hanya ingin menjauh dari Jakarta untuk beberapa waktu.

Kesempatan kabur dari Jakarta itu berbentuk training di Hong Kong. Aku pergi bersama Aulia, teman sebelah kubikelku, sejak hari Minggu pagi untuk training selama tiga hari. Rencananya sih, akan pulang Kamis siang.

Sejujurnya, selama tiga hari training mengenai pengembangan produk dan strategi untuk bisnis kartu kredit, aku nggak menangkap esensinya sama sekali. Pikiranku melayang ke mana-mana. Bahkan, sampai sekarang aku nggak ingat nama cowok ganteng dari Maybank Kuala Lumpur yang duduk di sebelahku selama tiga hari berturut-turut. Padahal dari hari pertama dia udah ngajakin ngobrol dengan semangat.

“Lo tuh perlu distraction, Yan. Pengalih perhatian biar nggak mikirin Yudha melulu.” Aulia berkata kepadaku di sela-sela diskusi kelompok kami. “Lo tau, dia tuh berusaha ngajakin lo ngobrol. Dari hari pertama. Kenapa lo nggak nanggapin, sih? Menurut gue lumayan, lho. Walaupun, yah,“ Aulia berdeham sebentar. “—Malaysia sih, ya. Agak susah.”

Aku nyengir. “Emangnya kenapa dengan Malaysia?” Aku menatap Aulia dengan pandangan geli. “Oh, lo termasuk pendukung ‘Ganyang Malaysia’?”

Aulia tersedak. “Bukan itu juga, sih.”

Sambil membuka-buka materi training untuk mencari insight atas pertanyaan yang ada di dalam diskusi, aku berbisik kepada Aulia. “Gue rasa sekarang bukan saat yang tepat untuk memulai fling kepada orang yang tinggalnya berjarak dua ribu kilometer dari Jakarta. Lagi pula, kayak masalah gue nggak banyak aja.” Aku mendongak menatap si cowok Maybank sekilas. Wajahnya terlihat serius menatap materi training di hadapannya. He’s cute. “Ngomong-ngomong namanya siapa tadi?” Aku mengedikkan bahu ke arah si cowok Maybank.

“Wira.” Aulia menjawab singkat. “Dia nyebutin nama panjangnya sih, cuma lo tau, lah. Gue kan payah dalam ngingat nama orang.”

Aku nyengir.

“Jadi, gimana lo dan Yudha?” Aulia melemparkan pertanyaan lain.

Pertanyaan yang sama sekali aku nggak suka. Pertanyaan yang aku hindari untuk dijawab selama beberapa minggu belakangan ini. Pertanyaan yang—membuat aku kabur dari Jakarta.

Sebagai jawaban untuk Aulia, aku mengangkat bahu. “Nggak tau.”

“Udah ngomong belum sama dia?”

“Emangnya perlu?” Aku balas bertanya dengan nada sinis.

“Tapi udah tau apa yang lo mau?”

Aku menghela napas. Meletakkan pulpenku di atas meja dan menatap Aulia dengan serius. “Kalau lo jadi gue, apa yang akan lo lakukan?”

Aulia terdiam dan menatapku dengan pandangan memahami. Tapi ia sama sekali nggak berkata apa pun.

“Gue rasa lo udah tau apa jawaban gue kan, Au?”

———–

Lan Kwai Fong | Central – Hong Kong

Aku membenarkan bag strap di bahuku yang melorot lalu melirik ke jam tangan. Duh, Aulia mana sih? Ini seharusnya ia sudah muncul lima belas menit yang lalu.

Sehabis training yang selesai pukul lima, aku berpisah dengan Aulia. Walaupun tadi Aulia menawarkan untuk membawakan materi training milikku, di detik-detik terakhir aku memutuskan untuk menolaknya. Bukan masalah materi training yang berat (kan udah janji dibawain sama Aulia), tapi lebih karena aku malas pakai baju kerja. Pengen ganti sesuatu yang lebih santai. Aulia sih enak, dia kan cowok. Pakaiannya simpel. Kalau kedinginan pakai jas, kalau kegerahan, tinggal dibuka. Dan sisi plusnya, dia masih tetap bisa terlihat santai.

Maka setelah naik-turun MTR, keluar-masuk stasiun, akhirnya kini aku sudah berdiri manis di sudut jalan, mengenakan dress putih dengan potongan rok model A, tight hitam, dan flat shoes. Berhubung ternyata udara nggak terlalu dingin dan nggak turun hujan (pertama kalinya setelah tiga malam, akhirnya langit cerah!), aku nggak memakai coat dan menyampirkannya di sela tote bag yang aku bawa.

Sebelum kami berpisah, Aulia mengatakan akan langsung ke Central membeli kado untuk pacarnya dan kami janjian ketemu langsung di Lan Kwai Fong sebelum bersama-sama bertemu Shazi. Janjiannya sih, jam setengah delapan. Tapi ini sudah lima belas menit berlalu dan ia belum kelihatan sama sekali. Aku coba telepon tapi nggak aktif. Mudah-mudahan aja dia nggak kenapa-kenapa.

Aku memperhatikan jalanan yang penuh dengan bar dan kafe-kafe kecil. Aku selalu suka dengan jalan-jalan kecil di Hong Kong, termasuk daerah Lan Kwai Fong ini. Mengingatkanku pada Diagon Alley-nya Harry Potter, berkelok dan naik-turun. Suasananya mulai ramai oleh para pegawai kantor yang pulang kerja, beberapa malah masih mengenakan jas. Aku suka dengan gaya para laki-laki Hong Kong—memakai jas yang body fit membuat kadar kegantengan meningkat dua puluh lima persen. Sayang, di Jakarta kadang nggak feasible untuk pakai jas ke mana-mana. Panasnya itu lho. Poor Jakarta’s men.

Terdengar suara-suara orang mengobrol di sekelilingku dalam berbagai bahasa. Percakapan dua bapak-bapak yang berdiri di samping kiriku selama lima menit terakhir dilakukan menggunakan bahasa Spanyol, sementara percakapan dua wanita semampai di samping kananku menggunakan bahasa Perancis. This place is just like a melting pot. Ini yang aku suka dari Hong Kong atau Singapura.

“SYIANA!” Aku mendengar suara familiar memanggilku. Aku mendongak dan menoleh ke arah asalnya suara. Terlihat Aulia melambaikan tangan kanannya ke arahku, sementara tangan kirinya menenteng paper bag berlogokan Coach. Oh, rupanya itu kado Aulia untuk pacarnya.

Aku balas melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum. “Dari mana aja, sih? Kok gue hubungin nggak bisa?”

Aulia, masih terengah, berdiri di hadapanku dan menjawab, “Batrenya habis. Dan gue nggak bawa colokan kaki tiga untuk nge-charge.”

“Lah, terus kita janjian sama Shazi gimana?” Aku mengikuti Aulia yang mulai berjalan menyusuri trotoar.

“Tadi sebelum batre gue habis Shazi udah kirim email. Dia dan teman-temannya ada di The Cavern. Nah.” Aulia berhenti untuk menungguku menyejajari langkahnya. “Berhubung gue nggak tau The Cavern ada di mana, lo liat kanan-kiri, ya. Gak lucu aja udah nyusurin sampe jauh, eh ternyata kelewatan.”

Aku mengangguk tanpa bersuara dan berjalan santai sambil menoleh ke kanan kiri. Memicingkan mata untuk mengetahui nama bar atau kafe di depan mataku. “Shazi sama siapa, Au?”

“Katanya sih sama temen-temennya. Anak-anak Jakarta yang datang ke Asia Banking Award.” Aulia menunjuk ke arah bar tepat di tanjakan. “Kayaknya itu deh, ya? Bener nggak, Yan?” Aku melihat ke arah yang dimaksud, lalu mengangguk dan mempercepat langkah menyamai Aulia.

The Cavern nggak jauh berbeda dengan kebanyakan bar atau kafe yang bertebaran di seputaran Lan Kwai Fong, tapi satu yang aku perhatikan adalah adanya panggung kecil tempat band yang sedang membawakan Secret-nya OneRepublic dengan impresif.

Aulia memberikan jawaban bahwa sudah ada teman yang menunggu di dalam ketika waitress bertanya apakah kami sudah reservasi atau belum. Kami berhenti sesaat karena Aulia menoleh kanan-kiri untuk mencari Shazi. Berhubung aku belum tahu yang mana Shazi, maka yang aku lakukan hanyalah memperhatikan sekeliling dengan santai.

“Yuk, Yan.” Aulia mengajakku dan mengarah ke bagian samping. Aku mengikuti langkahnya, dan nggak lama kemudian, aku berdiri di hadapan seorang perempuan cantik dengan wajah yang menyerupai orang Arab. Ia kemudian berdiri dan menghampiri Aulia dengan semangat dan memeluknya seolah sudah nggak bertemu selama seribu tahun.

“Eh, Shaz, kenalin, ini temen gue, Syiana.” Aulia memperkenalkan kami setelah Shazi melepaskan pelukannya. Shazi menoleh ke arahku dan tersenyum lebar. “Eh, halo.” Ia menjabat erat tanganku. “Shazi.”

Aku membalas jabatan tangannya dengan firm lalu berkata, “Hai, Shazi, Syiana.” Aku langsung menyukai aura bersahabat dari perempuan ini.

Aku mengambil tempat duduk di depan Shazi dan Aulia yang duduk bersebelahan, kemudian memutuskan memesan satu gelas Perrier. Aku berencana untuk tetap sadar dan menghindari semua minuman yang mengandung alkohol. Okay, ini janjiku kepada Edyta, dan seorang perempuan harus menepati janji kepada sahabatnya.

Aulia mengangkat alis sambil tersenyum meledek ketika mendengar aku menyebutkan Perrier kepada waitress. Tapi aku hanya mengangkat bahu sambil melemparkan tatapan mematikan yang membuatnya nggak bertanya-tanya lagi.

“Temen-temen lo mana, Shaz?” Aulia bertanya ketika waitress sudah pergi dan kami tinggal bertiga di meja berkapasitas enam orang ini.

Shazi mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya dan menyalakan pemantik. Setelah mengisap sesaat, ia menghembuskan asap, baru menjawab pertanyaan Aulia. “Abis antar klien lah ke hotelnya masing-masing. Bentar lagi juga nyampe, kok. Hotelnya nggak jauh-jauh dari sini.”

“Emang kapan sih, acara award-award-nya itu?” tanya Aulia sambil mengambil satu batang rokok milik Shazi.

“Semalam. Besok gue udah balik.”

“Eh, sama dong. Kita juga balik besok ya, Yan?”

Aku mengangguk.

Hening sejenak. Kami bertiga memperhatikan band yang kini membawakan lagu lawas milik Fastball, Out of My Head. Mengingatkanku pada masa-masa kuliah. Tanpa sadar, aku menggumamkan lagu tersebut sambil mengetukkan jari perlahan di atas meja.

Shazi menjentikkan abu rokok di asbak di hadapannya lalu menggerakkan kepala ke arah depan sambil berkata, “Itu dia teman-teman gue.” Shazi berdiri dari kursi dan melambaikan tangan dengan semangat. “Hai, guys!”

Tepat setelah Shazi menyelesaikan kata-katanya, terdengar ada suara berat berteriak memanggil Shazi. Aku menoleh ke belakang dan mendapati dua orang laki-laki berjalan ke arah kami. Saat itu pula aku terdiam. Salah seorang teman Shazi yang baru datang juga terdiam dan menghentikan langkahnya.

Aku menoleh ke arah Aulia.

Panik.

———-

Hong Kong pada bulan April cuacanya cukup menyenangkan, walaupun kadang masih ada gerimis-gerimis yang kadang turun pada pagi atau sore hari. Selebihnya, raincoat free. Terakhir kali aku ke Hong Kong adalah tahun lalu, bulan April juga, bersama geng SMA-ku yang kini hidupnya sudah berpencar ke seluruh dunia. Anggaplah pertemuan di Hong Kong ini sebagai reuni. Edyta, Diana, Lellie, Rendi, dan Pierre. Saat itu rasanya hidupku sempurna.

Kini tepat satu tahun kemudian, kembali di tempat yang sama, hidupku rasanya berubah 180 derajat. No more awesomeness.

Aku memasuki Stasiun MTR Central dengan langkah cepat. Mengetatkan syal di sekeliling leher dan merasakan bahwa ada air mata yang mengalir pelan dari kedua sudut mataku. Malam ini Stasiun MTR Central penuh banget. Aku berdesakan dengan segerombolan remaja yang heboh mengobrol dan satu keluarga yang tampaknya habis makan malam bersama.

Ponselku berbunyi dan bergetar nggak berhenti-henti sejak aku meninggalkan The Cavern dengan tiba-tiba dan aku sama sekali nggak ada niat untuk mengangkatnya.

This Hong Kong journey is supposed to be a getaway.

Aku melarikan diri dari kenyataan yang menyakitkan di Jakarta. Tapi yang terjadi adalah, kenyataan itu mengejarku sampai di sini.

Aku berdiri gelisah di peron selama beberapa menit. Sesekali menoleh ke belakang, hanya untuk memastikan nggak ada yang mengikuti aku sampai sini. Nggak berapa lama, keretanya datang. Sambil melangkahkan kaki masuk, sekali lagi aku menoleh sekilas ke belakang, dan begitu pintu kereta menutup dan kereta mulai berjalan, aku menyandarkan diri ke tiang, menutup mata dan menghembuskan napas lega.

Dari semua kebetulan yang bisa terjadi di dunia ini, kenapa sih aku harus bertemu Yudha di sini? Kota yang tiga ribu kilometer jauhnya dari Jakarta?

Aku benar-benar nggak nyangka bahwa teman-temannya Shazi salah satunya adalah Yudha. Mungkin seharusnya aku tahu, mungkin seharusnya aku punya firasat. Maka yang terjadi berikutnya adalah aku dan Yudha sama-sama tertegun.

Saat itu, seolah-olah semuanya terjadi dalam gerakan lambat.

Yudha menghampiriku dengan langkah ragu. Aku bisa membaca gerakan bibirnya yang menyebutkan namaku. Saat itu pula aku berdiri, secepat kilat mengambil tote bag dan coat milikku yang tersampir di kursi lalu berjalan cepat ke arah pintu keluar. Aku berjalan dengan begitu cepatnya, menembus jarak antara Yudha dan temannya, dan nggak mengurangi kecepatan sampai di stasiun.

So much for my getaway. Or runaway. Or whatever.

——-

24 comments to “Restart – 1st Chapter”

You can leave a reply or Trackback this post.
  1. kak, i like the story yuhuuu~ syiana yg kabur ke hongkong demi menghindari sosok yudha malah bertemu dengan dia di sana. haha. penasaran banget dengan permasalahan yg terjadi antara dua orang ini hehe. i`m absolutely waiting for the next story of this novel kak, hehe. before i also read your duet novel, fly to the sky kak. and i love it. kocak sumpah. hahaha. edyta edyta. jadi pengen ketemu sosok edyta kak. haha

    • Safira Ainurrahma says: December 11, 2013 at 15:31

      Plis buat jadi film dong kak Nina, pasti aku langsung nonton deh! Aku suka banget sama Fedriannya ah buat melting aja ehehehe. Film-in ya kak thankyou!

  2. Ah, makasih ya Nida :D
    Doain aja bisa cepat selesai. Ini walaupun tinggal dikit nggak selesai-selesai nih.
    Mau ketemu Edyta? Errr, agak susah ya. Hahaha… Sementara baca ceritanya aja ya :D

  3. Keren kaaaak ;;) penasaran knp Syiana sm Yudha bisa putus. Di fly to the sky baik2 aja kayaknya :p semoga cepat terbit kak. Kalo udah terbit, buat pre order ya kak.. *ngarep ttd* =))

  4. wooo… ihiiyyyy jadi semangat mau tau ceritanya bakal mengalir kaya gimana.. mau dibukuin ya kaka?? aku pasti jadi salah satu yg nunggu2.. lol
    Btw thx for da link. like I got a treasure map wahaha sooo excited to read this one too

  5. Anonymous says: July 27, 2012 at 05:44

    musti buruaan terbit nich….., dah gak sabar. Walaupun aku baru baca karyanya Nina Ardianti difly to the sky, aku langsung jatuh hati. Sayangnya novel terbarunya yang imposible, teen leet kan yach. aku kan dah emak emak he he he

  6. Punya ilmu apa ya bisa bikin novel yang ga garing dan selalu bikin gue *tentunya* bertanya, ini apa setelahnya? Terus gimana kelanjutannya Syiana?

    Multitalent ya cuma Tuhan yang bisa kasih ke Nina Ardianti. Proud of you!

  7. Kak Nina, entah aku kudet ato apa. Aku baru baca novel Restart. And emagooooooood!!
    I’m in love with you’re story :D
    Ada Restart part 2 gak kak? Hehe
    Story nya seru buat dijadikan film loh kak :)

  8. Baru selesai baca Restart.. Really love love love the story.. ??? “i have black belt in sarcasm” statement which makes Ian fall in love with Syiana. Eager to read your other books.. Smangaaat!!!

  9. nunik andini sari says: October 8, 2013 at 21:23

    aku baru beres baca Restart nih dan bener-bener cinta bgt sama ceritanya dan pada Ian juga:D Dejavu itu beneran ada ya? huehehehe dan Fedrian Arsjad juga beneran ada? hahaha kurang update saya…

  10. Lila Elisana says: November 10, 2013 at 16:24

    Kak, novelnya udah selesai kubaca. gak kurang dari 2 hari buat ngebacanya. Huu bagus. ceritanya mengena banget. Jadi sayang kalau menunda ngerampungin tuh novel.
    Ditunggu novel selanjutnya yaa.. :)))
    “Kalau sebelum mengenal dia saja aku bisa bahagia, apa bedanya bahagia setelah tanpa dirinya” *nyesss…*

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.